Jalan Lintas Bengkulu Penuh Lubang Serta Rawan Longsor

Kamis, 26 Agustus 2010 | 16:11 WIB
TEMPO Interaktif, Bengkulu – Pengguna jalan terutama pemudik yang akan
melintas di jalur lintas barat Lampung-Kaur-Manna-Kota Bengkulu- Bengkulu
Utara- Muko-muko- Sumatera Barat maupun jalur lintas timur Kepahyang-
Pagar Alam dan Kepahyang-Rejang Lebong-Sumatera Selatan patut waspada.
Karena ada 17 titik jalan dalam kondisi rusak parah yang juga rawan
longsor dan abrasi.

Hal tersebut tentu saja perlu mendapatkan perhatian khusus Pemerintah
Provinsi Bengkulu karena titik rawan tersebut merupakan jalan negara.
Apalagi, arus mudik tidak lama lagi bergulir.

“Paling parah abrasi yang terjadi di Desa Urai Muko-muko jalan lintas
Bengkulu – Padang karena saat ini hanya mampu dilewati satu kendaraan
roda empat,” jelas Yudha Karyana, Kepala Satuan Polisi Jalan Raya
Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Bengkulu, saat diminta
keterangan Kamis (26/8).

Sementara itu titik jalan rusak berdasarkan inventarisasi Petugas Jalan
Raya Kepolisian Daerah Bengkulu, khusus jalur lintas barat terdapat di
Kabupaten Kaur antara lain Desa Batu Lungun, Ulak Padang, Tanjung Bulan,
Bentiring, Sukamerindu, Bentiring, dan Jembatan Kucupan.

Di Kabupaten Seluma antara lain jalan di Desa Padang Plasak, Gunung Agung,
Tumbuan, dan Air Teras, dan Jembatan Tumbuan. Di Kabupaten Muko-muko
antara lain jalan di Desa Penarik, Lubuk Sana, Urai.

“Sehingga bagi kendaraan yang melintas di desa-desa tersebut patut waspada
karena tidak hanya jalan penuh lubang, tapi juga keberadaan jalan yang
habis dimakan abrasi dapat mengancam nyawa,” tegas Yudha.

Jalur lintas timur rawan terhadap longsor, dan kondisi jalan tidak kalah
buruknya dengan jalur lintas barat. Lubang-lubang beserak di sepanjang
jalur tersebut. Yang perlu diwaspadai adalah jalan di desa Ulak Tanding
Kabupaten Rejang Lebong dan sepanjang area gunung di Kabupaten Kepahyang.

Kepala Dinas Perhubungan dan Infokom Provinsi Bengkulu Aliberti
mengatakan sementara waktu untuk mengantisipasi jalan-jalan rusak,
pihaknya akan menambah rambu-rambu peringatan di sepanjang jalan, juga
membuat jalan alternatif khusus jalan rusak akibat abrasi.

“Khusus jalan yang terkikis abrasi akan dibuat jalan alternatif dari
tanah, karena sangat berbahaya jika dilewati pada malam hari tanpa ada
penerangan,” katanya.

Khusus Bengkulu, Aliberti mengatakan puncak arus mudik terjadi pada H-1
hingga H+1, dan itu sebanyak 60 persen adalah pemudik lokal dari Kota
Bengkulu yang mudik ke kabupaten lain. Kebanyakan pemudik menggunakan
kendaraan roda dua.

Menurut Aliberti, kemacetan dapat terjadi di Desa Urai, sebab kendaraan
terpaksa melintas bergantian karena badan jalan yang habis dimakan abrasi.
Mengantispasi hal tersebut, pihak Dinas Perhubungan telah berkoordinasi
dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk membuat jalan alternatif.

“Jalan sepanjang area gunung antara Bengkulu Tengah dan Kepahyang juga
dapat mengalami kemacetan karena jalanan sempit dan terdapat jurang disisi
jalan,” terangnya lagi.

Mengenai kondisi jalan yang rusak, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bengkulu
Zulkarnain Muin saat dikonfirmasi mengatakan jika pihaknya sejak seminggu
yang lalu telah memperbaiki jalan. “Perbaikan sifatnya sementara, dengan
menambal sulam jalan-jalan yang berlubang, dan membuat beberapa jalan
alternatif dari tanah,” katanya.

PHESI ESTER JULIKAWATI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: