Sumbar-Riau Lumpuh Total

Rabu, 08 Oktober 2008

Kelok Sembilan dan Rantau Baringin Dihantam Longsor

Sample Image Putus Total : Ratusan pengemudi kendaraan bermotor terjebak longsor, Dua alat berat dikerahkan untuk menyingkirkan bongkahan batu yang menghalangi badan jalan, di kawasan Kelok Sembilan, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota (Insert).
 
Limapuluh Kota, Padek– Jalur transportasi darat penghubung Sumbar dengan Provinsi Riau, kembali putus total karena dihantam longsor, dengan panjang dan ketinggian yang berbeda, pada Selasa (7/10) siang. 
 
”Longsor kali ini terjadi di kilometer 20 dari Kota Payakumbuh, tepatnya di kawasan Kelok Sembilan, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, dan di kawasan Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau,” kata Kapolres Limapuluh Kota AKBP Benny Setyawan kepada Padang Ekspres di lokasi longsor.

Khusus untuk longsor yang menghantam kawasan Kelok Sembilan, terjadi sebanyak dua kali, yakni sekitar pukul 14.00 WIB dan pukul 17.30 WIB. Sampai berita ini diturunkan, sejumlah petugas yang dibekali tiga unit alat berat, masih bekerja keras membersihkan tanah. Berdasarkan pantauan Padang Ekspres, longsor di Kelok Sembilan disebabkan karena batu sebesar truk colt diesel yang  berada di tebing paling atas, tiba-tiba runtuh dan menimbun badan jalan.

Untung saja tidak ada pengemudi kendaraan yang ditimpanya. Meskipun demikian, longsor yang menghantam Kelok Sembilan tersebut, tetap saja berakibat fatal. Setidaknya lebih dari 800 mobil dan sepeda motor yang rata-rata bermuatan pemudik Lebaran 1429 Hijriah, terjebak dalam antrean panjang. Diperkirakan, panjang antrean mencapai 6 kilometer. Untung saja, sebelum lokasi longsor terdapat puluhan rumah makan dan warung minuman, sehingga para pengemudi kendaraan bisa beristirahat sambil menunggu jalan diperbaiki.

Ketua Satuan Kordinasi Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satkorlak PBP) Limapuluh Kota Irfendi Arbi, optimis, longsor di Kelok Sembilan dapat diatasi. ”Sesuai pembicaraan kami dengan Kapolres, malam ini juga kami yakin, longsor di Kelok Sembilan dapat teratasi. Tentu saja dengan doa, tidak ada lagi longsor susulan,” kata Irfendi Arbi tadi malam.

Telat Pulang

Masih akibat longsor yang terjadi di Kelok Sembilan, ratusan warga Riau yang baru saja menikmati libur Lebaran di Sumatera Barat, terpaksa harus “telat pulang” ke tanah laskar bertuah. ”Ya, apa boleh buat, jalanan longsor. Lebaran tahun lalu, saya juga mengalami hal begini. Kalau malam ini tidak bisa diperbaiki, alamat akan telat kami sampai di Riau,” kata Andi Malano (42), warga Jalan Tengku Tambusai Riau yang mengaku asal Pariaman.

Bukan hanya Andi yang cemas akan telat pulang ke Riau. Sekelompok anak muda yang mudik dengan menggunakan sepeda motor, juga mulai panik.  “Kami sudah berencana, malam ini bisa sampai di Pekanbaru. Karena tadi sebenarnya sudah mulai bekerja. Tapi apa boleh buat, jalan longsor. Mau muter ke Kiliran Jao, tanggung,” celetuk Edila Deferdo (24).

Kepanikan lebih besar, juga terlihat pada wajah puluhan sopir L-300 pengangkut beras, telur, dan sayur mayur dari Sumbar. “Ondeh mandeh, longsor pulo jalan ko baliak. Lah sansai awak dibueknyo ko mah, batambah pitih kalua,” kata Herman (37), seorang sopir asal Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota. Herman mengatakan, biasanya, setiap kali mengangkut telur ke Riau, dia sudah punya jatah gaji dan makan yang jelas. Kalau jalanan longsor, tentu jatah gajinya bakal harus lebih diirit.

Tiap hari, warga Sumatera Barat memang selalu mengirim komoditi pangan ke Riau. Untuk Kabupaten Limapuluh Kota saja, berdasarkan data yang diperoleh Padang Ekspres dari Wakil Bupati Irfendi Arbi, ada 5 juta butir telur ayam buras yang dikirim. “Itu baru telur saja. Kalau nanti dihitung pula puluhan ton beras dan sayur mayur dari berbagai daerah di Sumbar. Coba bayangkan, betapa proses ekonomi akan terganggu,” kata Irfendi Arbi.

Masih Banyak Titik Rawan

Berdasarkan pantauan Padang Ekspres kemarin sore, Jalan Sumbar-Riau saat ini memang relatif lebih rawan dengan longsor. Di samping disebabkan curah hujan yang tinggi. Beberapa titik tebing di Kelok Sembilan dan di sejumlah nagari dalam Kecamatan Pangkalan Koto Baru, juga terlihat memerah mulai gundul, misalnya saka di Nagari Koto Alam dan di Kelok Sembilan. Masih berdasarkan pantuan wartawan, rata-rata titik rawan longsor Jalan Sumbar-Riau, terdapat di sekitar lokasi penggalian batu.

Penggalian batu ini menurut Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Limapuluh Kota sebenarnya berlangsung liar. Ketika longsor terjadi pada bulan Maret 2008 lampau, Polres Limapuluh Kota sempat meminta warga untuk menghentikan segala aktivitas penambangan batu di pinggir Jalan-Sumbar Riau. Namun sampai sekarang, imbauan tersebut agaknya masih belum terlalu dihiraukan.

Jalur Alternatif

Terlepas dari kondisi tersebut, nampaknya para pengemudi kendaraan yang saat ini hendak melewati Jalan negara Sumbar-Riau di Kabupaten Limapuluh Kota, harus pindah atau memakai jalan alternatif lain, yakni melalui Kiliran Jao. Mengapa demikian? Sebab menurut keterangan yang diperoleh Kapolres Limapuluh Kota AKBP Benny Setyawan dari petinggi Polri di Kampar, jalan yang terban di Rantau Baringin belum bisa diperbaiki dalam dua atau pun tiga minggu ke depan.

“Jadi, kalau pun jalan di Kelok Sembilan yang dihantam longsor bisa dibersihkan malam ini, paling lalu-lintas hanya berjalan lancar sampai di perbatasan Sumbar dengan Riau. Sedangkan di Rantau Barangin, jalan sudah terban lagi,” kata Benny Setyawan yang berada di Kelok Sembilan bersama Kapolresta Payakumbuh AKBP Mahavira Zain.

Kelok Sembilan Bisa Dilewati, Riau Belum

Sementara itu secara terpisah Kepala Dinas Prasarana Jalan Sumbar Dody Ruswandi yang dihubungi Padang Ekspres tadi malam mengungkapkan, longsor yang terjadi di kawasan Kelok Sembilan sudah bisa ditangani dan bisa dilewati kendaraan.Sebab, bongkahan batu menghalangi jalan sudah bisa dipecahkan.

Sementara untuk kawasan Riau, menurut PU setempat barutuntas empat hari ke depan. “Alhamdulillah malam ini (tadi malam, red) untuk bongkahan batu tersebut bisa kita pecahkan dengan alat khusus. Namun justru yang lebih parah longsor yang terjadi di 17 kilometer sesudah perbatasan Sumbar-Riau. Kepala Dinas PU Riau sendiri memperkirakan pengerjaannya tersebut bisa diselesaikan dalam waktu empat hari,” kata Dody.

Namun, begitu kata Dody, pihaknya akan tetap melakukan koordinasi dengan Dinas PU Riau. Karena, longsor yang terjadi bukan di kawasan Sumbar, maka kewenangannya oleh pemerintah setempat. Kendati, begitu akibat longsor tersebut akan mengakibatkan tidak lancarnya arus kendaraan dari Sumbar ke Riau. “Kita terus berkoordinasi dengan dinas setempat. Kalau bisa lebih cepat kita minta lebih cepat juga.

Ini kan menyangkut arus lalu lintas di Sumbar juga. Karena banyak kendaraan tertahan di perbatasan Sumbar-Riau,” kata Dodi lagi. Dody mengimbau masyarakat untuk bersabar. Mengingat bencana longsor bukan hanya terjadi di Sumbar, tapi juga di kawasan Riau. Namun, jalan alternatif Kiliran Jao cukup aman juga dilalui. Walaupun waktu tempuhnya lebih lama dua jam, namun jalur ini bisa digunakan untuk jalur Sumbar-Riau. (frv/afi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: