Sembilan Jam Terjebak Macet Padang-Bukittinggi

Senin, 06 Oktober 2008
Jalan Lima Meter Berhentinya Sepuluh Menit

Active ImageMacet Total : Antrean kendaraan terjebak macet di Silaingbawah,  Padangpanjang, beberapa waktu lalu.(Foto : Padek)
 
Tidak Lebaran namanya kalau jalur Padang-Bukittinggi tak macet total. Bencana musiman setiap tahun yang tak kunjung terselesaikan tersebut di tahun 1429 Hijiriah kembali terjadi. Bayangkan dari Padangpanjang hingga Koto Baru, X Koto Kabupaten Tanahdatar harus dilewati lima jam perjalanan.
 
Anto (35) mengumpat dan mengerutu sambil membantingkan pintu mobil. ”Apo ko, masak dari Silaing ka Bukik Surungan ko se habih lo wakatu dua jam,” ujarnya menggerutu sambil melihat arloji Rolex yang melingkar di lengan kirinya, Kamis (2/10).

Seperti tahun-tahun sebelumnya, jalur Padang-Bukittinggi memang selalu macet. Namun Lebaran 1429 Hijiriah kali ini betul-betul macet luar biasa. Macet total dan nyaris tak bergerak. Seluruh kendaraan yang tumpah ruah di jalan terlihat berhenti lima menit dan lalu berjalan lima meter lalu berhenti lagi.

Pantauan koran ini apa yang dirasakan selama terjebak dalam macet total dari Padang menuju Bukittinggi mulai terjadi ketika memasuki kawasan Simpang Lintas Padangpariaman. Karena di kawasan tersebut sudah mulai terjadi pertemuan dua jalur arus transportasi yang selama ini juga termasuk daerah rawan macet.

Dari arah Simpang Lintas terlihat deretan kendaraan mulai merangkak dari arah Pasaman Barat, Lubukbasung dan Pariaman. Baik itu menuju Padang maupun menuju kawasan Lubukalung. Dari arah selatannya datang deretan kendaraan dari arah Kota Padang menuju Padangpanjang.

Masih syukur kawasan yang dekat dengan rawan macet karena pasar tumpah di Lubukalung ini tidaklah macet total. Tapi macet di jalur ini hanya berdampak melambatnya laju kendaraan. Kondisi yang nyaris sama juga terjadi di kawasan Sicincin, Kabupaten Padangpariaman. Daerah yang juga memiliki pasar tumpah dan pertigaan jalan menuju Padangpariaman ini juga terlihat macet. Di kawasan ini  terjadi macet yang agak lebih dibandingkan kawasan Lubukalung.

Usai melewati pasar tumpah Sicincin tumplekan kendaraan roda dua maupun roda empat berbagai nomor polisi sudah mulai terlihat menumpuk. Kendaraan yang semula terlihat melaju dengan lambat mulai terlihat merayap.

”Bayangkan saja dari Padang kami berangkat pukul 18.00 WIB dan baru sampai di Kadangempat ini pukul 20.00 WIB. Biasanya Padang menuju Bukittinggi bisa ditempuh hanya dua jam perjalanan,karena Padang menuju Bukittinggi terpaut jarak 90-an kilometer,” ujar Taslim salah seorang pengemudi kendaraan pribadi dari Padang mendekati Kelok Pinyaram, Kabupaten Padangpariaman.

Sukses melewati dua pasar tumpah, Lubukalung dan Sicincin bukan berarti mobil yang ditumpangi Padang Ekspres terlepas dari perangkap macet. Justru yang terjadi sebaliknya. Menapaki kawasan Kayutanam kendaraan betul-betul sudah menumpuk. Di sini pengemudi mulai tak bisa lagi menginjak pedal gas. Pengemudi terlihat mulai sibuk menginjak pedak rem dan kompling. Bau pahit dan busuk akibat gesekan rem, serta kain kopling dengan mesin mulai menyegat.

Sepanjang jalan juga terlihat sejumlah kendaraan dari berbagai jenis dan tahun rakitan mulai menepi. Sambil mengumpat dan wajah bosan bercampur letik terlihat satu persatu mereka mulai membuka kap (penutup mesin, red). Ini menandakan temperature mesin mobil sudah melewati ambang batas.

Sebetulnya naiknya temperatur mesin kendaraan merupakan konsekuensi logis. Sebab, mulai dari Kayutanam hingga Padangpanjang kondisi jalan mulai menanjak. Layaknya jalur tanjakan tentu pengemudi selalu menekan pedal gas dan memaksa kendaraan agar mampu melaju ditanjakan. Tidak  itu saja mesin kendaraan juga dipaksa dan ini membawa dampak borosnya bahan bakar.

Sepanjang jalur Malibo Anai hingga Bukit Surungan saja tercatat hampir belasan kendaraan yang kehabisan bahan bakar. Parahnya lagi, keringnya bahan bakar ini terjadi di kawasan sempit serta tanjakan tajam. Misalnya di kawasan lingkar Terminal Bukit Surungan yang merupakan jalur satu-satunya dari Padang menuju Bukittinggi sesuai skenario aparat lalu lintas terlihat sebuah mobil hartop dan Kijang kehabisan bahan bakar di jalur sempit. Akibatnya hampir satu jam jalur lingkar tersebut macet total tak bergerak.

Tidak itu saja, jalur alternatif dua jalur yang terpaksa menjadi satu jalur ini berubah menjadi tempat parkir mendadak. Kendaraan terlihat berjejer sebanyak empat lapis. Di sini juga terlihat tak ada lagi prioritas bagi pengguna jalan. Para pengemudi tak lagi peduli dengan status sosial maupun kasta lain dalam kehidupan.

Setidaknya ini terlihat dari sejumlah kendaraan yang terjebak ditentukan beberapa kendaraan berlogokan padi kapas dan lambang burung garuda sebagai logo wakil rakyat. Begitu juga dengan mobnas yang pakai logo daerah di dinding dengan nopol rahasia. Malahan kendaraan Patwal yang selama ini dipergunakan untuk menerobos kemacetan dengan raungan serta lampu pijar yang menyala dibuat tak berkutik. Buktinya, di kawasan lingkar Bukit Surungan ditemukan dua unit Patwal terjebak dan tak bisa berbuat apa-apa.

”Dek emang jalan menuju Bukittinggi tak ada lagi yang lain ya, kapan mau nyampai kalau kendaraannya padat kayak gini. Tengoklah ke atas sana rentetan kendaraan seperti tak terputus,” ujar Jasman salah seorang perantau yang mengaku ingin menuju RM Badarun untuk menikmati masakan khas sambalado-nya.

Kalau dilihat dari kondisi ruas jalan dan banyaknya kendaraan yang terjebak macet maka jalur alternatif Padang menuju Bukittinggi sudah harus disediakan. ”Saya sempat dengar ada jalur Padang-Bukittinggi via Sicincin-Malalak untuk, apakah jalur itu udah bisa dioperasionalkan.

Masalahnya saya dapat informasi jalur itu mulai dikerjakan sejak tahun 2002 yang lalu?” tanyanya. Terlepas dari perangkap macet di jalur Lingkar Bukik Surungan bukan berarti Padang Ekspres bisa melaju dengan kecepatan tinggi menuju Kota Sanjai Bukittinggi.

Malahan memasuki jalur Padang-Bukittinggi selepas pertigaan jalur lingkar Bukit Surungan tumplekan kendaraan juga terlihat makin parah. Padang Ekspres yang mencoba melirik jam ternyata kaget luar biasa. Untuk jalan sepanjang 300 meter saja harus menghabiskan waktu lebih dari satu jam.

Tepat pukul 00.00 WIB Padang Ekspres kembali melanjutkan perjalanan kendaraan mulai beringsut menanjakan pendakian Panyalaian, Kecamatan X Koto Kabupaten Tanahdatar. Sepanjang jalan terlihat sejumlah warga yang bermukim di pinggir jalan raya Padang-Bukittinggi menjadikan kemacetan sebagai  tontonan musiman yang datang sekali setahun.

Doni (27) salah seorang warga Panyalaian mengatakan, selama dua puluh inilah macet yang paling parah. Tahun kemarin memang macet juga tapi tak separah ini, kendaraan masih bisa bergerak. ”Ini betul-betul parah,” ucapnya.

Penerobos Pemicu Kacau

Padatnya jalur dan tumpleknya kendaraan dibanding luar ruas jalan sebetulnya tak perlu terjadi kalau dikelola dan ditata dengan baik. Dari beberapa kawasan macet yang dilewati Padang Ekspres pemicu utama kemacetan adalah banyak kendaraan yang menerobos melewati marka jalan (tanda pembatas jalan, red) dan memakan jalan dari arah berlawanan. Sementara dari arah berlawanan juga terlihat tumpukan kendaraan. Benturan jalur inilah yang paling banyak menimbulkan kemacetan.

Dari pantauan Padang Ekspres kondisi ini mulai terjadi dari kawasan Kayutanam hingga ke Padang Luar Kabupaten Agam. Di sepanjang jalur ini juga terlihat ratusan, bahkan ribuan batu ukuran sedang berserakan di jalan. Batu-batu ini dipergunakan oleh para pengemudi untuk menganjal kendaraan agar tak melorot ditanjakan ketika terpaksa harus berhenti mendapat giliran untuk jalan.

Begitu juga dengan sampah. Sepanjang jalan tersebut terlihat sampah berserakan akibat para penumpang banyak yang kelaparan sebelum sampai di tempat tujuan. Kondisi ini diperparah, karena sebagian besar rumah makan dan restoran sudah tutup karena kehabisan bahan makanan. Sementara sejumlah pengemudi kendaraan Angkutan Kota Dalam Provinsi yang sempat dihubungi Padang Ekspres mengaku kesal dengan kemacetan ini.

”Biasonyo kami bisa jalan ampek (dua kali pulang pergi, red) Padang-Payakumbuh manjalang malam. Ko lah tangah malam baru jalan duo, kanai kami da,” ujar Malin salah seorang pengemudi AKDP Jalur Payakumbuh Padang.

Bergantung Sicincin-Malalak

Macet yang menjadi tontonan musiman ini tak akan pernah selesai sepanjang tahun jika jalur alternatif dan konsentrasi kendaraan tidak dipecah. Sebab, opini masyarakat baik itu di rantau maupun di kampung, untuk berlebaran yang paling mengasikan itu adalah Bukittinggi. Mungkin tidak berlebihan kalau tak ke Bukittinggi belum lengkap Lebarannya. Inilah yang membuat kawasan ini menjadi macet total.

Kini fakta yang terjadi di jalur padat tersebut bukannya terpecah. Malahan sejumlah objek wisata baru muncul seperti Minang Fantasi di kawasan Minangkabau Village. Akibatnya, walau tak menjadi pelaku utama, kehadiran objek wisata air kedua setelah waterboom di Sawahlunto ini juga ikut memberikan konstribusi macetnya jalur Padangpanjang-Bukittinggi.

Jika warga Sumbar tak ingin lagi terjebak macet bila berpergian ke Bukittinggi, maka jalur alternatif Sicincin-Malalak merupakan kata kunci. Sebab, masyarakat bisa menggunakan alternatif lain untuk berpergian menuju Kota Sanjai yang selama ini dikenal sebagai icon-nya wisata Sumbar. (Two Efly)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: