Archive for Oktober, 2008

Penumpang Keluhkan Kondisi Kapal Feri

Senin, 6 Oktober 2008

MUDIK & LEBARAN 2008

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Sejumlah penumpang yang hendak menyeberang melalui Pelabuhan Bakauheni-Merak dan sebaliknya, mengeluhkan buruknya kondisi beberapa kapal feri. Selain kondisi kapal yang kotor, juga karena lamanya waktu penyeberangan yang mencapai 4 jam lebih.Salah satunya adalah kapal Nusa Darma. Kapal berukuran sedang itu selama musim arus mudik dan balik terlihat kurang terawat. Selain menyembulkan aroma tidak sedap, lantai kapal yang putih pun terlihat menghitam. Belum lagi sejumlah kursi dari fiberglass banyak yang keropos dan terlihat serangga di selipan bangku penumpang.

Banyak penumpang yang menggerutu dan kapok tidak mau naik kapal yang jorok tersebut. “Apa tidak pernah dibersihkan ya, kok sampai sejorok ini sih,” terang Ny. Haryati yang saat itu pergi bersama anak-anaknya, Minggu (5-10) dini hari.

Kekecewaan bertambah karena waktu penyeberangan yang biasanya hanya dua jam hingga dua setengah jam, kemarin molor sampai empat jam lebih. Selama satu jam lebih kapal berlabuh di dekat Pelabuhan Bakauheni. Selama menunggu sudah tiga kapal feri melintas.

Ketika ditanya ke awak kapal soal lamanya perjalanan, petugas hanya menjawab, sedang menunggu giliran dermaga. Beberapa penumpang yang tidak sabar dengan lamanya waktu perjalanan, sempat membunyikan klakson berulang kali.

“Saya kapok naik kapal ini lagi, mendingan juga menunggu deh daripada naik kapal ini,” kata Nugraha, salah satu penumpang kapal.

Selain itu, layanan petugas kapal juga terkesan asal-asalan. Bambang, penumpang dari Jakarta yang hendak ke Lampung, kecewa karena petugas tidak berkata jujur. Pada Sabtu (4-10) malam, Bambang bersama keluarga hendak menyeberang ke Lampung.

Saat di loket pembelian karcis kapal, petugas mengatakan kendaraan akan menyeberang di dermaga 3 dengan kapal Duta Banten. Begitu masuk pelabuhan, petugas mengalihkan ke dermaga 2 dan di sana Kapal Nusa Darma baru merapat dan akan bongkar. Saat ditanya soal pengalihan, petugas menjawab kapal Duta Banten sudah penuh. Naik kapal Nusa Darma pun kendaraan bisa di atas, lanjut petugas tadi.

Selang menunggu bongkar, dan kendaraan mulai masuk ke kapal, ternyata tak ada satu pun kendaraan yang diperbolehkan ke atas. “Waktunya sudah mepet Pak, jadi tidak bisa ke atas,” ucap petugas dengan santai. n SAG/K-1

 
Iklan

Comments (2) »

Sumbar-Riau Lumpuh Total

Rabu, 08 Oktober 2008

Kelok Sembilan dan Rantau Baringin Dihantam Longsor

Sample Image Putus Total : Ratusan pengemudi kendaraan bermotor terjebak longsor, Dua alat berat dikerahkan untuk menyingkirkan bongkahan batu yang menghalangi badan jalan, di kawasan Kelok Sembilan, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota (Insert).
 
Limapuluh Kota, Padek– Jalur transportasi darat penghubung Sumbar dengan Provinsi Riau, kembali putus total karena dihantam longsor, dengan panjang dan ketinggian yang berbeda, pada Selasa (7/10) siang. 
 
”Longsor kali ini terjadi di kilometer 20 dari Kota Payakumbuh, tepatnya di kawasan Kelok Sembilan, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, dan di kawasan Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau,” kata Kapolres Limapuluh Kota AKBP Benny Setyawan kepada Padang Ekspres di lokasi longsor.

Khusus untuk longsor yang menghantam kawasan Kelok Sembilan, terjadi sebanyak dua kali, yakni sekitar pukul 14.00 WIB dan pukul 17.30 WIB. Sampai berita ini diturunkan, sejumlah petugas yang dibekali tiga unit alat berat, masih bekerja keras membersihkan tanah. Berdasarkan pantauan Padang Ekspres, longsor di Kelok Sembilan disebabkan karena batu sebesar truk colt diesel yang  berada di tebing paling atas, tiba-tiba runtuh dan menimbun badan jalan.

Untung saja tidak ada pengemudi kendaraan yang ditimpanya. Meskipun demikian, longsor yang menghantam Kelok Sembilan tersebut, tetap saja berakibat fatal. Setidaknya lebih dari 800 mobil dan sepeda motor yang rata-rata bermuatan pemudik Lebaran 1429 Hijriah, terjebak dalam antrean panjang. Diperkirakan, panjang antrean mencapai 6 kilometer. Untung saja, sebelum lokasi longsor terdapat puluhan rumah makan dan warung minuman, sehingga para pengemudi kendaraan bisa beristirahat sambil menunggu jalan diperbaiki.

Ketua Satuan Kordinasi Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satkorlak PBP) Limapuluh Kota Irfendi Arbi, optimis, longsor di Kelok Sembilan dapat diatasi. ”Sesuai pembicaraan kami dengan Kapolres, malam ini juga kami yakin, longsor di Kelok Sembilan dapat teratasi. Tentu saja dengan doa, tidak ada lagi longsor susulan,” kata Irfendi Arbi tadi malam.

Telat Pulang

Masih akibat longsor yang terjadi di Kelok Sembilan, ratusan warga Riau yang baru saja menikmati libur Lebaran di Sumatera Barat, terpaksa harus “telat pulang” ke tanah laskar bertuah. ”Ya, apa boleh buat, jalanan longsor. Lebaran tahun lalu, saya juga mengalami hal begini. Kalau malam ini tidak bisa diperbaiki, alamat akan telat kami sampai di Riau,” kata Andi Malano (42), warga Jalan Tengku Tambusai Riau yang mengaku asal Pariaman.

Bukan hanya Andi yang cemas akan telat pulang ke Riau. Sekelompok anak muda yang mudik dengan menggunakan sepeda motor, juga mulai panik.  “Kami sudah berencana, malam ini bisa sampai di Pekanbaru. Karena tadi sebenarnya sudah mulai bekerja. Tapi apa boleh buat, jalan longsor. Mau muter ke Kiliran Jao, tanggung,” celetuk Edila Deferdo (24).

Kepanikan lebih besar, juga terlihat pada wajah puluhan sopir L-300 pengangkut beras, telur, dan sayur mayur dari Sumbar. “Ondeh mandeh, longsor pulo jalan ko baliak. Lah sansai awak dibueknyo ko mah, batambah pitih kalua,” kata Herman (37), seorang sopir asal Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota. Herman mengatakan, biasanya, setiap kali mengangkut telur ke Riau, dia sudah punya jatah gaji dan makan yang jelas. Kalau jalanan longsor, tentu jatah gajinya bakal harus lebih diirit.

Tiap hari, warga Sumatera Barat memang selalu mengirim komoditi pangan ke Riau. Untuk Kabupaten Limapuluh Kota saja, berdasarkan data yang diperoleh Padang Ekspres dari Wakil Bupati Irfendi Arbi, ada 5 juta butir telur ayam buras yang dikirim. “Itu baru telur saja. Kalau nanti dihitung pula puluhan ton beras dan sayur mayur dari berbagai daerah di Sumbar. Coba bayangkan, betapa proses ekonomi akan terganggu,” kata Irfendi Arbi.

Masih Banyak Titik Rawan

Berdasarkan pantauan Padang Ekspres kemarin sore, Jalan Sumbar-Riau saat ini memang relatif lebih rawan dengan longsor. Di samping disebabkan curah hujan yang tinggi. Beberapa titik tebing di Kelok Sembilan dan di sejumlah nagari dalam Kecamatan Pangkalan Koto Baru, juga terlihat memerah mulai gundul, misalnya saka di Nagari Koto Alam dan di Kelok Sembilan. Masih berdasarkan pantuan wartawan, rata-rata titik rawan longsor Jalan Sumbar-Riau, terdapat di sekitar lokasi penggalian batu.

Penggalian batu ini menurut Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Limapuluh Kota sebenarnya berlangsung liar. Ketika longsor terjadi pada bulan Maret 2008 lampau, Polres Limapuluh Kota sempat meminta warga untuk menghentikan segala aktivitas penambangan batu di pinggir Jalan-Sumbar Riau. Namun sampai sekarang, imbauan tersebut agaknya masih belum terlalu dihiraukan.

Jalur Alternatif

Terlepas dari kondisi tersebut, nampaknya para pengemudi kendaraan yang saat ini hendak melewati Jalan negara Sumbar-Riau di Kabupaten Limapuluh Kota, harus pindah atau memakai jalan alternatif lain, yakni melalui Kiliran Jao. Mengapa demikian? Sebab menurut keterangan yang diperoleh Kapolres Limapuluh Kota AKBP Benny Setyawan dari petinggi Polri di Kampar, jalan yang terban di Rantau Baringin belum bisa diperbaiki dalam dua atau pun tiga minggu ke depan.

“Jadi, kalau pun jalan di Kelok Sembilan yang dihantam longsor bisa dibersihkan malam ini, paling lalu-lintas hanya berjalan lancar sampai di perbatasan Sumbar dengan Riau. Sedangkan di Rantau Barangin, jalan sudah terban lagi,” kata Benny Setyawan yang berada di Kelok Sembilan bersama Kapolresta Payakumbuh AKBP Mahavira Zain.

Kelok Sembilan Bisa Dilewati, Riau Belum

Sementara itu secara terpisah Kepala Dinas Prasarana Jalan Sumbar Dody Ruswandi yang dihubungi Padang Ekspres tadi malam mengungkapkan, longsor yang terjadi di kawasan Kelok Sembilan sudah bisa ditangani dan bisa dilewati kendaraan.Sebab, bongkahan batu menghalangi jalan sudah bisa dipecahkan.

Sementara untuk kawasan Riau, menurut PU setempat barutuntas empat hari ke depan. “Alhamdulillah malam ini (tadi malam, red) untuk bongkahan batu tersebut bisa kita pecahkan dengan alat khusus. Namun justru yang lebih parah longsor yang terjadi di 17 kilometer sesudah perbatasan Sumbar-Riau. Kepala Dinas PU Riau sendiri memperkirakan pengerjaannya tersebut bisa diselesaikan dalam waktu empat hari,” kata Dody.

Namun, begitu kata Dody, pihaknya akan tetap melakukan koordinasi dengan Dinas PU Riau. Karena, longsor yang terjadi bukan di kawasan Sumbar, maka kewenangannya oleh pemerintah setempat. Kendati, begitu akibat longsor tersebut akan mengakibatkan tidak lancarnya arus kendaraan dari Sumbar ke Riau. “Kita terus berkoordinasi dengan dinas setempat. Kalau bisa lebih cepat kita minta lebih cepat juga.

Ini kan menyangkut arus lalu lintas di Sumbar juga. Karena banyak kendaraan tertahan di perbatasan Sumbar-Riau,” kata Dodi lagi. Dody mengimbau masyarakat untuk bersabar. Mengingat bencana longsor bukan hanya terjadi di Sumbar, tapi juga di kawasan Riau. Namun, jalan alternatif Kiliran Jao cukup aman juga dilalui. Walaupun waktu tempuhnya lebih lama dua jam, namun jalur ini bisa digunakan untuk jalur Sumbar-Riau. (frv/afi)

Leave a comment »

Jalur Sumbar-Riau Putus, Arus Lalulintas Dialihkan Kiliran Jao

  pdf  | cetak |
Rabu, 08 Oktober 2008
ImageBERSIHKAN—Dua alat berat menyingkirkan material dari jalan Kelok Sembilan akibat longsor. Kendaraan menuju Pekanbaru yang terjebak macet.
PADANG, METRO Jalur lintas Sumbar – Riau putus total, sehingga arus lalulintas dialihkan ke jalur Kiliran Jao. Hal ini disebabkan karena longsor batu yang menimbun sebagian badan jalan di sekitar Kelok Sembilan atau di pangkal Jembatan Layang, Selasa (7/10) sekitar pukul 15.00 WIB.

Hingga kemarin, sudah dikerahkan empat unit alat berat dari Dinas Prasarana Jalan Sumbar untuk menyingkirkan material longsor yang menimbun badan jalan. Namun, hingga  sore kemarin pukul 17. 00 WIB ruas jalan Kelok Sembilan sudah bisa ditempuh,  meskipun dengan sistem buka tutup.

Sementara itu, pengalihan arus lalu lintas juga dikarenakan adanya longsor besar yang terjadi di kawasan Rantau Barangin (Kabupaten  Kampar, Riau). Longsor yang terjadi di daerah tetangga ini terjadi, Selasa (7/10) sekitar pukul 06.00 WIB. Peristiwa ini menyebabkan badan jalan ambruk masuk ke sungai Batang Kampar. Bahkan, satu unit truk nyaris terseret ke dalam sungai.

Menurut Kakan Kesbang Pol Kabupaten Limopuluah Koto Drs Idarusalam, untuk menyingkirkan batu-batuanlongsor yang menghambat laju lalu lintas, pihak Pemkab Limopuluah Koto sudah menurunkan personilnya. Sedangkan kendaraan yang melewati jalur lintas timur ini dialihkan. Pengalihan itu adalah langkah alternatif yang dilakukan untuk menghindari terjadinya antrean kendaraa. Sedangkan dalam evakuasi, pihak Pemkab Limopuluah Koto tidak ikut serta. Hal ini dikarenakan lokasi longsor sudah berada di daerah Pemkab Kampar, Provinsi Riau.

“Personil keamanan dan evakuasi sudah diturunkan ke lokasi longsor batu di Kelok Sembilan. Untuk penanganan longsor yang terjadi di daerah Kampar kita tidak ikut campur karena lokasi bencana berada di lurah daerah. Sekarang kita fokus membersihkan reruntuhan batu di daerah Kelok Sembilan. Untuk jalur ke Riau sudah kita alihkan ke daerah Lintau Kiliran Jao. Kalau tidak dialihkan, antrian panjang sudah pasti akan terjadi. Lagian Minggu ini intensitas kendaraan yang meninggalkan Limopuluah Kota dan Payokumbuah meningkat tajam,” terang Idarusalam.

Selanjutnya Idarusalam mengimbau kepada para pengendara yang belum mengetahui bencana ini untuk mengambil jalur Lintau Kiliran Jao. “Sekedar himbauan bagi pengendara yang akan meninggalkan Luan Nan Bungsu agar mengambil jalur lain. Dari dulu daerah sekitar Kelok Sembilan memang sangat rawan longsor, apalagi jika musim penghujan. Faktor lainnya juga karena jalur darat lintas barat juga berada di sisi jurang. Untuk saat ini hanyalah mengevakuasi kendaraan untuk melewati jalur lainlah yang bisa kita lakukan,”tambah Idarusalam.

Dari informasi yang berhasil dihimpun koran ini, longsor yang menyebabkan ambruknya badan jalan ke Batang Kampar tidak menelan korban jiwa. Tapi satu truk nyaris masuk ke dalam sungai. Namun untunglah, bantuan yang datang dari pemerintah setempat segera memberikan bantuan sehingga truk dapat kembali di tarik ke atas. Perbaikan jalan menurut perkiraan akan membutuhkan waktu sekitar satu bulan.(o/s)

Leave a comment »

Sembilan Jam Terjebak Macet Padang-Bukittinggi

Senin, 06 Oktober 2008
Jalan Lima Meter Berhentinya Sepuluh Menit

Active ImageMacet Total : Antrean kendaraan terjebak macet di Silaingbawah,  Padangpanjang, beberapa waktu lalu.(Foto : Padek)
 
Tidak Lebaran namanya kalau jalur Padang-Bukittinggi tak macet total. Bencana musiman setiap tahun yang tak kunjung terselesaikan tersebut di tahun 1429 Hijiriah kembali terjadi. Bayangkan dari Padangpanjang hingga Koto Baru, X Koto Kabupaten Tanahdatar harus dilewati lima jam perjalanan.
 
Anto (35) mengumpat dan mengerutu sambil membantingkan pintu mobil. ”Apo ko, masak dari Silaing ka Bukik Surungan ko se habih lo wakatu dua jam,” ujarnya menggerutu sambil melihat arloji Rolex yang melingkar di lengan kirinya, Kamis (2/10).

Seperti tahun-tahun sebelumnya, jalur Padang-Bukittinggi memang selalu macet. Namun Lebaran 1429 Hijiriah kali ini betul-betul macet luar biasa. Macet total dan nyaris tak bergerak. Seluruh kendaraan yang tumpah ruah di jalan terlihat berhenti lima menit dan lalu berjalan lima meter lalu berhenti lagi.

Pantauan koran ini apa yang dirasakan selama terjebak dalam macet total dari Padang menuju Bukittinggi mulai terjadi ketika memasuki kawasan Simpang Lintas Padangpariaman. Karena di kawasan tersebut sudah mulai terjadi pertemuan dua jalur arus transportasi yang selama ini juga termasuk daerah rawan macet.

Dari arah Simpang Lintas terlihat deretan kendaraan mulai merangkak dari arah Pasaman Barat, Lubukbasung dan Pariaman. Baik itu menuju Padang maupun menuju kawasan Lubukalung. Dari arah selatannya datang deretan kendaraan dari arah Kota Padang menuju Padangpanjang.

Masih syukur kawasan yang dekat dengan rawan macet karena pasar tumpah di Lubukalung ini tidaklah macet total. Tapi macet di jalur ini hanya berdampak melambatnya laju kendaraan. Kondisi yang nyaris sama juga terjadi di kawasan Sicincin, Kabupaten Padangpariaman. Daerah yang juga memiliki pasar tumpah dan pertigaan jalan menuju Padangpariaman ini juga terlihat macet. Di kawasan ini  terjadi macet yang agak lebih dibandingkan kawasan Lubukalung.

Usai melewati pasar tumpah Sicincin tumplekan kendaraan roda dua maupun roda empat berbagai nomor polisi sudah mulai terlihat menumpuk. Kendaraan yang semula terlihat melaju dengan lambat mulai terlihat merayap.

”Bayangkan saja dari Padang kami berangkat pukul 18.00 WIB dan baru sampai di Kadangempat ini pukul 20.00 WIB. Biasanya Padang menuju Bukittinggi bisa ditempuh hanya dua jam perjalanan,karena Padang menuju Bukittinggi terpaut jarak 90-an kilometer,” ujar Taslim salah seorang pengemudi kendaraan pribadi dari Padang mendekati Kelok Pinyaram, Kabupaten Padangpariaman.

Sukses melewati dua pasar tumpah, Lubukalung dan Sicincin bukan berarti mobil yang ditumpangi Padang Ekspres terlepas dari perangkap macet. Justru yang terjadi sebaliknya. Menapaki kawasan Kayutanam kendaraan betul-betul sudah menumpuk. Di sini pengemudi mulai tak bisa lagi menginjak pedal gas. Pengemudi terlihat mulai sibuk menginjak pedak rem dan kompling. Bau pahit dan busuk akibat gesekan rem, serta kain kopling dengan mesin mulai menyegat.

Sepanjang jalan juga terlihat sejumlah kendaraan dari berbagai jenis dan tahun rakitan mulai menepi. Sambil mengumpat dan wajah bosan bercampur letik terlihat satu persatu mereka mulai membuka kap (penutup mesin, red). Ini menandakan temperature mesin mobil sudah melewati ambang batas.

Sebetulnya naiknya temperatur mesin kendaraan merupakan konsekuensi logis. Sebab, mulai dari Kayutanam hingga Padangpanjang kondisi jalan mulai menanjak. Layaknya jalur tanjakan tentu pengemudi selalu menekan pedal gas dan memaksa kendaraan agar mampu melaju ditanjakan. Tidak  itu saja mesin kendaraan juga dipaksa dan ini membawa dampak borosnya bahan bakar.

Sepanjang jalur Malibo Anai hingga Bukit Surungan saja tercatat hampir belasan kendaraan yang kehabisan bahan bakar. Parahnya lagi, keringnya bahan bakar ini terjadi di kawasan sempit serta tanjakan tajam. Misalnya di kawasan lingkar Terminal Bukit Surungan yang merupakan jalur satu-satunya dari Padang menuju Bukittinggi sesuai skenario aparat lalu lintas terlihat sebuah mobil hartop dan Kijang kehabisan bahan bakar di jalur sempit. Akibatnya hampir satu jam jalur lingkar tersebut macet total tak bergerak.

Tidak itu saja, jalur alternatif dua jalur yang terpaksa menjadi satu jalur ini berubah menjadi tempat parkir mendadak. Kendaraan terlihat berjejer sebanyak empat lapis. Di sini juga terlihat tak ada lagi prioritas bagi pengguna jalan. Para pengemudi tak lagi peduli dengan status sosial maupun kasta lain dalam kehidupan.

Setidaknya ini terlihat dari sejumlah kendaraan yang terjebak ditentukan beberapa kendaraan berlogokan padi kapas dan lambang burung garuda sebagai logo wakil rakyat. Begitu juga dengan mobnas yang pakai logo daerah di dinding dengan nopol rahasia. Malahan kendaraan Patwal yang selama ini dipergunakan untuk menerobos kemacetan dengan raungan serta lampu pijar yang menyala dibuat tak berkutik. Buktinya, di kawasan lingkar Bukit Surungan ditemukan dua unit Patwal terjebak dan tak bisa berbuat apa-apa.

”Dek emang jalan menuju Bukittinggi tak ada lagi yang lain ya, kapan mau nyampai kalau kendaraannya padat kayak gini. Tengoklah ke atas sana rentetan kendaraan seperti tak terputus,” ujar Jasman salah seorang perantau yang mengaku ingin menuju RM Badarun untuk menikmati masakan khas sambalado-nya.

Kalau dilihat dari kondisi ruas jalan dan banyaknya kendaraan yang terjebak macet maka jalur alternatif Padang menuju Bukittinggi sudah harus disediakan. ”Saya sempat dengar ada jalur Padang-Bukittinggi via Sicincin-Malalak untuk, apakah jalur itu udah bisa dioperasionalkan.

Masalahnya saya dapat informasi jalur itu mulai dikerjakan sejak tahun 2002 yang lalu?” tanyanya. Terlepas dari perangkap macet di jalur Lingkar Bukik Surungan bukan berarti Padang Ekspres bisa melaju dengan kecepatan tinggi menuju Kota Sanjai Bukittinggi.

Malahan memasuki jalur Padang-Bukittinggi selepas pertigaan jalur lingkar Bukit Surungan tumplekan kendaraan juga terlihat makin parah. Padang Ekspres yang mencoba melirik jam ternyata kaget luar biasa. Untuk jalan sepanjang 300 meter saja harus menghabiskan waktu lebih dari satu jam.

Tepat pukul 00.00 WIB Padang Ekspres kembali melanjutkan perjalanan kendaraan mulai beringsut menanjakan pendakian Panyalaian, Kecamatan X Koto Kabupaten Tanahdatar. Sepanjang jalan terlihat sejumlah warga yang bermukim di pinggir jalan raya Padang-Bukittinggi menjadikan kemacetan sebagai  tontonan musiman yang datang sekali setahun.

Doni (27) salah seorang warga Panyalaian mengatakan, selama dua puluh inilah macet yang paling parah. Tahun kemarin memang macet juga tapi tak separah ini, kendaraan masih bisa bergerak. ”Ini betul-betul parah,” ucapnya.

Penerobos Pemicu Kacau

Padatnya jalur dan tumpleknya kendaraan dibanding luar ruas jalan sebetulnya tak perlu terjadi kalau dikelola dan ditata dengan baik. Dari beberapa kawasan macet yang dilewati Padang Ekspres pemicu utama kemacetan adalah banyak kendaraan yang menerobos melewati marka jalan (tanda pembatas jalan, red) dan memakan jalan dari arah berlawanan. Sementara dari arah berlawanan juga terlihat tumpukan kendaraan. Benturan jalur inilah yang paling banyak menimbulkan kemacetan.

Dari pantauan Padang Ekspres kondisi ini mulai terjadi dari kawasan Kayutanam hingga ke Padang Luar Kabupaten Agam. Di sepanjang jalur ini juga terlihat ratusan, bahkan ribuan batu ukuran sedang berserakan di jalan. Batu-batu ini dipergunakan oleh para pengemudi untuk menganjal kendaraan agar tak melorot ditanjakan ketika terpaksa harus berhenti mendapat giliran untuk jalan.

Begitu juga dengan sampah. Sepanjang jalan tersebut terlihat sampah berserakan akibat para penumpang banyak yang kelaparan sebelum sampai di tempat tujuan. Kondisi ini diperparah, karena sebagian besar rumah makan dan restoran sudah tutup karena kehabisan bahan makanan. Sementara sejumlah pengemudi kendaraan Angkutan Kota Dalam Provinsi yang sempat dihubungi Padang Ekspres mengaku kesal dengan kemacetan ini.

”Biasonyo kami bisa jalan ampek (dua kali pulang pergi, red) Padang-Payakumbuh manjalang malam. Ko lah tangah malam baru jalan duo, kanai kami da,” ujar Malin salah seorang pengemudi AKDP Jalur Payakumbuh Padang.

Bergantung Sicincin-Malalak

Macet yang menjadi tontonan musiman ini tak akan pernah selesai sepanjang tahun jika jalur alternatif dan konsentrasi kendaraan tidak dipecah. Sebab, opini masyarakat baik itu di rantau maupun di kampung, untuk berlebaran yang paling mengasikan itu adalah Bukittinggi. Mungkin tidak berlebihan kalau tak ke Bukittinggi belum lengkap Lebarannya. Inilah yang membuat kawasan ini menjadi macet total.

Kini fakta yang terjadi di jalur padat tersebut bukannya terpecah. Malahan sejumlah objek wisata baru muncul seperti Minang Fantasi di kawasan Minangkabau Village. Akibatnya, walau tak menjadi pelaku utama, kehadiran objek wisata air kedua setelah waterboom di Sawahlunto ini juga ikut memberikan konstribusi macetnya jalur Padangpanjang-Bukittinggi.

Jika warga Sumbar tak ingin lagi terjebak macet bila berpergian ke Bukittinggi, maka jalur alternatif Sicincin-Malalak merupakan kata kunci. Sebab, masyarakat bisa menggunakan alternatif lain untuk berpergian menuju Kota Sanjai yang selama ini dikenal sebagai icon-nya wisata Sumbar. (Two Efly)

Leave a comment »

Jalinsum Belum Tuntas

 
Rabu, 24 September 2008

ImageBandarlampung, Singgalang
Perbaikan jalan lintas Sumatra (Jalinsum) wilayah Lampung, terutama lintas tengah dan timur, tampak belum selesai hingga H-8 (delapan hari sebelum Lebaran). Hal itu sangat berpotensi menimbulkan kemacetan panjang di Jalinsum saat angkutan mudik berlangsung. Berdasarkan pantauan di sejumlah titik Jalinsum wilayah Lampung, Rabu, perbaikan jalan, terutama pengaspalan dan penambalan lobang-lobang jalan, tampak dipercepat menjelang masa angkutan mudik, dan pekerjaan itu menyebabkan arus lalu lintas menjadi macet. Perbaikan jalan itu, seperti di wilayah Tarahan dan Kalianda Lampung Selatan, bahkan menyebabkan penyempitan tubuh jalan atau penggunaan sistem buka dan tutup.

Setiap kendaraan yang hendak melintas ke Bakauheni harus berhenti dulu di saat kendaraan ke arah Bandarlampung melintas di jalan yang sedang diperbaiki itu.

Hal itu menyebabkan kemacetan panjang, terlebih volume truk barang meningkat menjelang H-4. Semua truk barang, kecuali pengangkut sembako, akan “diistirahatkan” mulai H-4 hingga H+4, dan kapal feri saat itu akan diprioritaskan mengangkut para pemudik dan kendaraannya.

Antara juga melaporkan, selain perbaikan jalan, perempatan jalan atau kondisi jalan yang tidak mulus, pembangunan saluran air di sisi jalan Jalinsum juga rentan menyebabkan kemacetan, karena batu dan pasir banyak yang diletakkan di pinggir badan jalan.

Berdasarkan pantauan, hal itu mengakibatkan penyempitan tubuh jalan, seperti di ruas jalan Kalianda- Bakauheni.

Tanjakan di sejumlah titik Jalinsum merupakan faktor lain yang berpotensi menimbulkan kemacetan, seperti di tanjakan Bakauheni, Panjang, dan Tarahan.

Truk sarat muatan sangat sering mogok di tengah tanjakan, terutama di tanjakan Tarahan (Lampung Selatan), yang mengakibatkan arus lalu lintas menjadi macet.

Pemdaprov Lampung belum lama ini menyebutkan bahwa perbaikan Jalinsum akan selesai sebelum angkutan Lebaran digelar.

Angkutan Lebaran 2008 digelar mulai H-7 hingga H+7, yakni mulai Rabu (24/9) hingga Kamis (9/100.

Pemerintah Provinsi Lampung pada 2007 lalu menyebutkan bahwa 20 persen dari total panjang Jalan Lintas Sumatra (800 kilometer) mengalami kerusakan, yakni di ruas jalan lintas tengah, lintas timur, dan lintas barat.*

Leave a comment »

MASJID AL-IKHLAS H.M.ARMA DAN SEKRETARIAT BMKM SUMSEL SEBAGAI POSKO BANTUAN PULANG BASAMO

FOTO UDARA MASJID AL-IKHLAS H.M.ARMA DAN SEKRETARIAT BMKM SUMSEL

Sekretariat BMKM Sumsel sekaligus Masjid yang selalu di fungsikan sebagai Posko Bantuan Pulang Basamo warga Minang yang akan melintasi kota Palembang sewaktu pulang mudik ke kampung halamannya di Sumatera Barat maupun saat kembali ke rantau nya masing2. Ini adalah kerja sama BMKM Sumsel dan GEBU MINANG yang merupakan salah satu Program kerja GEBU MINANG Periode 2005-2010.

Bangunan ini terletak di pinggir jalan lingkar luar kota Palembang yaitu di Jalan Soekarno-Hatta, 400 meter sebelum simpang empat ke Bandara SMB II, Jambi, dan Kota dari arah Jembatan Musi II.  Lokasinya sangat mudah ditandai yaitu adanya bangunan Rumah Gadang bagonjong dan bangunan Masjid bertingkat 2 dengan kubah warna kuning emas. Dengan luas tanah lebih dari 4.000 meter persegi, lokasi Sekretariat dan Masjid yang terletak pada Jalan Minangkabau itu sangat cocok untuk tempat istirahat dan sholat bagi para pemudik. Disekitar lokasi tersebut juga terdapat Rumah Makan Padang dengan nama RM Palapa Permai. Bagi yang ingin mencoba menu lain seperti Bakso dan Ayam Panggang, di pojok depan Sekretariat ini terdapat Restoran Bakso dan Ayam Panggang BONTET. 

Leave a comment »

Tour De Sumatera (Lintas Barat)

(Seperti yang diutarakan Sdr. Miko di milis Rantaunet pada : Fri, July 18, 2008, 11:25 am)

Perjalanan panjang Tour de Sumatera mulai 1 Juli akhirnya berakhir 13 Juli 2008. Melewati 8 Provinsi, sesuai tripmeter total jarak 3736 km. Fuel Consumptions plus bioethanol, dengan muatan full barang (didalam + roofrail), gue plus 3 wanita dewasa dan sepasang krucil (total 6 orang), dengan jalan yang berliku-liku … ngebejek gasnya memang jadi maksa tidak bisa konstan.
Sepertinya nggak irit juga! (lihat tabel dibawah)

Ettape 1:
Jakarta – Merak – Bakauheni – Bandar Lampung – Pringsewu – Kota Agung – Wonosobo – Bengkunat – Krui – Bintuhan – Manna – Tais – Bengkulu ~ 796 KM
– Atas saran travel di atas Ferry, dianjurkan lewat sini karena lebih ramai dan lebih aman. Secara jarak juga lebih pendek.
– Perjalanan hampir keseluruhan di pinggir Pantai Barat Sumatera, mulia di Bengkunat sampai Padang.
– SPBU mulai provinsi Bengkulu mulai bermasalah.
– Kenyang sama duren, Rp 4000 yang gede per biji … hehehe

Ettape 2:
Bengkulu – Lais – Ketahun – Seblat – Kelaban – Ipuh – Muko-muko – Lubuk Pinang – Tapan – Muaro Sakai ~ 369 KM
– Sampai Ketahun jalan jelek, masih sisa musibah gempa tahun lalu karena disini sangat dekat pusat gempa.

Ettape 3:
Muaro Sakai – Aie Haji – Balai Selasa – Kambang – Painan – Padang ~ 198 KM
– Karena pertimbangan jarak tempuh terlalu lama (10-12 jam), tidak jadi melewati Tapan-Kerinci-Kayu Aro-Muaralabuh-Padang.

Ettappe 4:
Keliling Sumatera Barat ~ 223 km = 3 hari
– Keliling Ranah Minang memang tidak pernah membosankan berwisata dengan keindahan alamnya … plus wisata kuliner yang beraneka rasa.

Ettape 5:
Bukittinggi – Payakumbuh – Pangkalan Koto Baru – Rantau Barangin – Bangkinang – Pekanbaru ~ 261 km
– Seru juga balapan sama Innova mulai Bangkinang, topspeed 120 km.

Ettape 6:
Pekanbaru – Pangkalan Kerinci – Pematang Rebah – Merlung – Jambi – Tempino – Bayung Lincir – Sungai Lilin – Betung – Palembang – Indralaya – Prabumulih – Baturaja – Bukit Kemuning – Kotabumi – Bandar Jaya – Rajabasa – Bakauheni – Merak – Jakarta ~ 1120 km
– Penumpang tinggal 3 orang, 2 wanita dan gue.
– Provinis Jambi keseluruhan jalan kondisi sangat baik, bisa dipujikan.
– SPBU di provinsi Jambi sangat parah dari di Bengkulu. Sempat antri setengah jam di Sengeti, Jambi.

SPBU di Lampung, SumBar, Riau dan SumSel tidak ada masalah.
Bengkulu dan Jambi tidak bisa di andalkan, sering bensin tidak ada. Kalaupun ada belinya kisruh, saingan sama yang beli jerigen untuk dijual eceran.

Tambahan … sepanjang jalan di Sumatera poster-poster calon bupati/walilkota/gubernur bikin rusak pemandangan gue, deh.

MIKO DaMix
TeRuCI 0059

Leave a comment »